Jenis-Jenis Burung Hantu

Jenis-Jenis Burung Hantu – Di alam bebas terdapat banyak sekali jenis burung yang dapat kita temui. Salah satu burung yang terkenal sejak lama adalah burung hantu. Burung hantu merupakan salah satu jenis burung yang memiliki beberapa karakteristik

Jenis-Jenis Burung Hantu

Jenis-jenis Burung Hantu di Indonesia

1. Barn Owl
Burung hantu yang satu ini dapat dikenali dengan mudah. Warnanya pucat dengan wajah yang bulat dan mata gelap.

Dalam The Cornell Lab All About Birds disebutkan, Barn Owl berukuran sedang, memiliki sayap yang panjang dan bulat serta ekor yang pendek, yang berpadu dengan gaya terbang yang melayang-layang untuk memberi mereka gaya terbang yang khas. Kakinya panjang dan kepalanya bulat mulus, tanpa jumbai telinga.

Habitat burung hantu ini biasanya pepohonan lebat. Mereka juga biasanya bersarang dan bertengger di rongga pohon atau bangunan buatan manusia seperti lumbung dan bangunan lainnya. Pada malam hari, Barn Owls berburu dengan terbang rendah di atas habitat terbuka, mencari hewan pengerat kecil terutama dengan suara.

2. Spotted Wood Owl
Burung hantu yang satu ini memiliki wajah bulat dengan bulu berwarna oranye. Matanya berwarna cokelat tua dan paruh berwarna keabu-abuan hingga hitam kehijauan.

Sementara bagian kepalanya berwarna cokelat dengan bulu yang memiliki dasar emas dan bintik-bintik putih dengan tepi hitam yang berbentuk batang di tengkuk. Bagian atas secara keseluruhan berwarna coklat kemerahan, banyak berbintik dengan bintik-bintik putih bermata hitam.

Baca Juga :Fakta Unik dari Burung Gereja

3. Buffy Fish Owl

Sesuai dengan namanya, jenis burung hantu Buffy Fish Owl banyak mengonsumsi ikan, juga krustasea, reptil, katak, kodok, dan serangga. Mereka juga mengonsumsi tikus, kumbang besar, dan kadang-kadang kelelawar. Selain itu, Buffy Fish Owl juga suka memakan bangkai.

Karena lebih sering mengonsumsi hewan air, Buffy Fish Owl umum ditemukan di daerah berhutan yang dekat dengan air. Tapi mereka juga sering terlihat dekat dengan tempat tinggal manusia.

4. Barred Eagle Owl

Burung hantu yang satu ini juga memiliki ciri khasnya sendiri dengan warna keabu-abuan yang tampak kotor. Selain itu, telinganya memiliki jumbai yang panjang, kusut, miring ke luar, dan berwarna coklat kehitaman.

Paruhnya berwarna kuning pucat digunakan untuk memakan serangga besar, burung, mamalia kecil, dan reptil. Burung hantu yang menempati hutan hijau dengan kolam dan sungai atau kebun dengan pohon besar yang rimbun ini banyak tersebar di benua Asia dari Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Bangka, Kalimantan, Jawa dan Bali.

Burung hantu jenis Barred Eagle Owl ini termasuk burung nokturnal. Ia bertengger di siang hari sendiri-sendiri atau berpasangan, tersembunyi di pohon tinggi dengan dedaunan lebat, sering kali di dekat batang pohon.

Bertambah 6 Jenis Burung Di 2019

Bertambah 6 Jenis Burung Di 2019

jenisburungdunia.net Di tahun 2019 kemarin penuh dengan banyak kejutan salah satunya adalah bertambahnya jenis burung di Indonesia . Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Bertambah 6 Jenis Burung Di 2019, Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Bertambah 6 Jenis Burung Di 2019

Awal tahun 2019 ini keanekaragaman hayati Indonesia patut bergembira. Jumlah jenis burung di Indonesia dikabarkan bertambah enam jenis. Penambahan ini menjadikan jumlah burung di Indonesia meningkat menjadi 1.777 jenis yang mencakup jenis burung penetap maupun migran yang berkunjung ke wilayah Indonesia setiap tahunnya.Biodiversity Conservation Specialist dari Burung Indonesia, Ferry Hasudungan, mengatakan bahwa penambahan ini berasal dari adanya perubahan taksonomi dan juga catatan baru untuk Indonesia. Dari penambahan enam jenis burung ini, tiga diantaranya merupakan burung imigrasi dan tiga jenis lainnya diperoleh dari perubahan taksonomi.“Tiga yang berimigrasi ada burung perancah eurasian oystercatcher (Haematopus ostralegus), burung sikatan zappey’s flycatcher (Cyanoptila cumatilis), dan kedidi paruh-sendok (Calidris pygmaea) yang sebelumnya hanya ditemukan di Singapura dan Malaysia bagian Selatan. Sedangkan tiga jenis lainnya hasil dari perubahan taksonomi ialah poksai kepala-botak (Garrulax calvus), sikatan-burik Sulawesi (Muscicapa sodhii), dan cikrak rote (Phylloscopus rotiensis),” ujar Ferry saat dihubungi Greeners melalui telepon pada Sabtu, (02/03/2019)

Ferry mengatakan dari enam jenis burung ini dua jenis sudah memasuki status Critical Danger, yakni kedidi paruh-sendok. Tidak hanya itu, dari keseluruhan 1.777 jenis burung di Indonesia 168 jenis burung dinyatakan terancam punah.Berdasarkan hasil kajian Burung Indonesia yang dilakukan hingga akhir 2018 jenis burung yang terancam punah berjumlah 163 jenis. Tahun 2019 ini, jumlah tersebut menjadi 168 jenis, di mana 30 jenis dinyatakan berstatus Kritis oleh badan konservasi dunia IUCN, status terakhir sebelumnya dinyatakan punah di alam. Selain itu 44 jenis dinyatakan berstatus Genting dan 94 jenis berstatus Rentan punah di alam.

“Meningkatnya keterancaman kepunahan ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, perburuan yang masih marak terjadi dengan tren meningkat dari tahun ke tahun, khususnya untuk burung kicau. Kedua, akibat hilangnya habitat untuk burung-burung ini karena yang tadinya banyak pohon untuk bersarang atau berkembang biak kini pohon itu semakin sedikit yang di mana kesempatan berkembang biak semakin berkurang,” ujar Ferry.

Baca Juga : Kediri Dan Koleki Burungnya

Ferry mengatakan, dari ribuan jenis burung yang tercatat di Indonesia, 557 jenis di antaranya telah dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 tahun 2018. Sayangnya, dari 14 jenis burung yang status keterancamannya meningkat pada 2018, ada empat jenis yang belum mendapatkan status perlindungan dari pemerintah. Ini terjadi pada perenjak jawa (Prinia familiaris), poksai mantel (Garrulax palliatus), dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus). Sedangkan jenis baru cikrak rote (Phylloscopus rotiensis), status keterancamannya saat ini belum dievaluasi.

“Harapannya ke depan pemerintah bisa lebih peduli kepada satwa burung ini terutama kebijakan untuk melindungi burung yang sudah terancam punah. Apalagi cucak rawa karena sebelumnya sudah dimasukkan ke dalam Permen 92/2018 tapi dikeluarkan kembali dengan alasan pemasukan ekonomi untuk negara,” katanya.