Fakta Unik Dari Burung Kiwi

Fakta Unik Dari Burung Kiwi

Jenisburungdunia.net – Kiwi adalah burung kecil yang terancam punah endemik Selandia Baru, dan secara tidak resmi menjadi simbol negara tersebut. Selain bentuknya yang imut, burung kiwi juga punya beberapa karakteristik sangat unik yang membuat mereka tampak menakjubkan

Burung kiwi masih berkerabat dekat dengan burung unta, tapi punya karakteristik lebih mirip mamalia dibandingkan golongan unggas lainnya. Berikut ini adalah fakta unik dari burung kiwi tersebut.

1. Ukuran telur sangat besar berdasar proporsi tubuh
Kiwi betina menghasilkan telur terbesar berkaitan dengan ukuran tubuhnya bila dibandingkan burung lainnya di dunia. Telur burung kiwi berukuran 20 persen dari ukuran tubuh induknya, dan bobotnya bisa mencapai 0,5 kg.

Sebagai perbandingan, bayi manusia hanya berukuran 5 persen dari tubuh ibunya. Sebagai imbas dari besarnya ukuran telur, telur burung kiwi banyak mengandung kuning telur, sehingga memungkinkan bayi kiwi ketika menetas langsung punya banyak bulu, sehat, dan ukurannya besar.

2. Hanya berpasangan satu kali seumur hidup
Burung kiwi merupakan sedikit dari spesies yang berpasangan hanya satu kali seumur hidupnya, alias monogami. Selama musim kawin, jantan dan betina akan aktif saling memanggil di malam hari, dan bertemu di sarang yang dibuat bersama setiap tiga hari sekali. Hubungan jantan-betina burung kiwi terlama yang dicatat adalah 20 tahun, hingga salah satunya mati.

3. Punya indra penciuman yang tajam
Indra penciuman yang tajam merupakan atribut yang jarang dimiliki seekor burung, tapi kiwi telah mengembangkan indra penciumannya dengan baik. Mereka adalah satu-satunya burung dengan lubang hidung pada ujung paruhnya, sehingga dengan kemampuan itu membuat mereka bisa mencium mangsa di bawah tanah.

4. Burung tanpa sayap karena kondisi alam
Sudah jadi rahasia umum bahwa burung kiwi tidak bisa terbang, tapi tidak adanya sayap pada burung kiwi bukannya tanpa sebab. Sebelum manusia menginjakkan kakinya di Selandia Baru ribuan tahun lalu, memang tidak ada predator darat yang mengancam populasi kiwi, sehingga burung ini tidak mengembangkan sayap dan relatif aman mencari makan dan bersarang di atas tanah.

5. Bulunya tebal sebagai perlindungan diri
Bulu burung kiwi telah berevolusi menyesuaikan dengan hidupnya yang di tanah, sehingga tampilan kiwi penuh dengan bulu tebal di sekujur tubuhnya. Bulu tebal ini bisa membantu burung kiwi kecil menyamar untuk menghindari predator terbang dengan menyerupai semak belukar.

Baca Juga : Beberapa Burung Dengan Kemampuan Terbang Yang Unik

6. Punya metode pertahanan diri
Meski kiwi adalah hewan nokturnal atau aktif di malam hari, mereka tidak pemalu. Burung ini sangat waspada dengan wilayahnya, dan mereka punya cakar tajam yang bisa membahayakan lawannya.

Menurut peneliti burung kiwi Dr. John McLennan, salah satu kiwi di North Westland, Selandia Baru, yang ditelitinya dan diberi nama Pete terkenal karena kebiasaan menyerang lalu kabur. Burung itu mencabik kaki lalu sembunyi di antara semak belukar.

7. Punya ingatan tajam dan susah ditipu
Burung kiwi punya ingatan tajam, dan mampu mengingat kejadian buruk yang menimpanya setidaknya selama lima tahun. Burung ini mungkin bisa ditipu dengan rekaman panggilan suara kiwi sekali saja, kemudian selanjutnya mereka akan curiga pada pola suara tersebut hingga menyadari tipuan itu.

Kakapo Spesies Burung Beo Tergemuk di Dunia Terancam Punah

Kakapo Spesies Burung Beo Tergemuk di Dunia Terancam Punah

Jenisburungdunia.net – Burung beo paling gemuk di dunia ini sedang menghadapi ancaman kepunahan oleh infeksi jamur, yang telah membahayakan seperlima spesiesnya.

Tujuh dari Kakapo asli Selandia Baru dilaporkan mati dalam beberapa bulan terakhir, setelah menjadi korban aspergillosis yang memicu penyakit pernapasan.

kasus terbaru terjadi awal pekan ini, di mana seekor anak Kakapo berusia 100 hari mati di Kebun Binatang Auckland.

Burung beo yang aktif di malam hari dan tidak bisa terbang itu mencuri hati dunia setelah menjadi bintang dalam film dokumenter BBC, saat spesies tersebut berhasil kawin.

Peristiwa itu digambarkan sebagai “pesta beo”, yang memberikan harapan baru bagi kelestarian spesiesnya.

Kakapo jantan diketahui dapat tumbuh hingga 4,8 pon (setara 2,2 kilogram), pernah ditemukan dalam jumlah besar di seluruh wilayah Selandia Baru.

Namun, perusakan habitat dan invasi hama membuat burung itu ke ujung kepunahan.

Penemuan populasi Kakapo yang sebelumnya tidak diketahui pada tahun 1970-an menyebabkan kebangkitan jumlah mereka.

Burung beo itu kemudian menjadi fokus dari upaya konservasi, yang berhasil meningkatkan populasinya menjadi tiga kali lipat.

Baca Juga : Ciri Lovebird Jantan

Berusaha Menjadikan Musim Kawin Terbesar

Tahun ini, tim yang terdiri lebih dari 100 ilmuwan, polisi hutan dan sukarelawan bekerja untuk menjadikannya musim perkembangbiakan Kakapo terbesar.

Terlepas dari upaya itu, kepala layanan veteriner Kebun Binatang Auckland Dr James Chatterton mengatakan masa depan burung-burung tersebut bergantung pada eseimbangan alam.

“Mereka semua bisa mati,” katanya kepada Radio New Zealand.

“Jelas kami berusaha sangat keras untuk mengatasinya, tetapi tentu saja dengan sekitar 200 burung yang hidup saat ini, setiap burung berharga bagi populasi, terutama jika kami memiliki 10 atau 20 yang sakit atau sekarat karena penyakit ini,” lanjutnya prihatin.

Total populasi veteriner saat ini adalah 142 ekor dewasa dan 72 lainnya masih berusia muda. Mereka semua hidup di pulau-pulau terpencil yang jauh dari predator.

Berbagai Kesulitan Menghadang

Namun, pada akhir April, kasus pertama aspergillosis pada populasi veteriner terdeteksi.

Sejak itu, 36 burung, atau seperlima dari jumlah total mereka, telah dikirim ke rumah sakit hewan di seluruh Selandia Baru untuk diagnosis dan perawatan.

“Kakapo membutuhkan dukungan mendesak kita,” kata Kementerian Konservasi Selandia Baru dalam sebuah pernyataan.

Kementerian itu mengatakan bahwa mendeteksi dan merawat burung dengan penyakit yang berpotensi fatal, sangatlah sulit.

Burung diterbangkan dengan helikopter ke daratan Selandia Baru untuk pemindaian CT, dan jika benar terinfeksi, maka mereka akan menghadapi beberapa bulan atau lebih perawatan intensif.

Pendukung Kakapo telah menyumbangkan setidaknya 100.000 dolar Selandia Baru (setara Rp 936 juta) untuk membantu pemulihan mereka, dengan lebih dari setengahnya berasal dari luar negeri.